Jumat, 04 April 2014

DINAMIKA KETHOPRAK WAKAS BUDOYO DI KABUPATEN TRENGGALEK (1981-2013): POTRET PELESTARIAN SENI TRADISI

PROPOSAL SKRIPSI
UNTUK MEMENUHI TUGAS MATAKULIAH
Seminar
yang dibina oleh Bapak Drs.   Mashuri, M. Hum.

oleh:
Estu Palupi Maharani 110731407188




                                                    






UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FAKULTAS ILMU SOSIAL
JURUSAN SEJARAH

April 2014



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Dalam kerangka keIndonesiaan, generasi muda sekarang lebih senang dengan hal-hal yang berbau luar negeri daripada asli Indonesia. Apalagi terhadap budaya Jawa yang dianggap sudah pasti kuno. Misalnya, masyarakat sekarang lebih suka menonton film televisi (sinetron atau drama) daripada menonton kethoprak, mendengarkan lagu Korea atau Barat daripada Gending Jawa. Bahkan lebih celaka lagi, kaum muda sudah tidak mengerti apa itu kethoprak, apalagi memainkannya.
 Padahal dengan penduduk mayoritas Jawa, eksistensi budaya Jawa akan sangat mempengaruhi budaya Indonesia. Dengan demikian, ketika kesenian atau kebudayaan Indonesia, atau lebih khususnya lagi Jawa, mulai ditinggalkan oleh generasi muda maka identitas asli Indonesia, khususnya kesenian, akan hilang. Dan dari segi kebudayaan, maka Bangsa Indonesia akan hilang ditengah budaya global. Untuk menjaga agar Bangsa Indonesia tidak hilang dari muka bumi, maka nilai-nilai budaya Indonesia harus terus dipelihara eksistensinya. Dan karena mayoritas bangsa Indonesia adalah Jawa, maka mempertahankan budaya Jawa, yang salah satu diantaranya adalah kesenian Jawa, adalah suatu keniscayaan. Jika kita tidak ingin budaya Indonesia hilang ditengah arus globalisasi, maka kita sudah seharusnya menjaga dan melestarikannya.
Memang, sinetron, musik, film yang disajikan oleh berbagai stasiun televisi adalah sajian hiburan yang paling mudah didapat dan tidak bisa dihindari keberadaannya. Tetapi karena hiburan itu sarat dengan kepentingan ekonomi yang diukur dengan rating, yang berarti tujuan utamanya adalah untuk penayangan iklan produk industri, maka penanaman nilai-nilai budaya Indonesia, terlebih lagi khususnya budaya Jawa menjadi sangat minim atau bahkan dapat dikatakan tidak ada. Salah satu contoh, pernah ada tayangan sinetron “X” di salah satu televisi. Sinetron ini dibuat sedemikian rupa sehingga mampu menguras emosi dan air mata penonton. Penggemarnya banyak, ratingnya tinggi, akhirnya dibuat berpuluh-puluh seri. Tetapi jika dilihat dari sisi penanaman nilai-nilai budaya, sangat kurang. Karena disana digambarkan seseorang yang sholeh tetapi selalu tertindas. Hal ini sangat merugikan image orang beragama. Karena para penonton menjadi terpengaruh untuk menjadi orang yang jahat.
Jika sajian hiburan yang dinilai dapat mengikis nilai-nilai budaya sebagai identitas Bangsa Indonesia ini tidak mendapat “tandingan”, maka lambat laun masyarakat tidak punya alternatif sajian lain lain sebagai tuntunan atau panutan, akhirnya pada titik tertentu identitas bangsa Indonesia akan benar-benar hilang. Dan disitulah Indonesia secara “kebangsaan” akan hilang. Karena itu, agar ada media sebagai sarana sosialisasi nilai-nilai budaya asli Indonesia harus ada kesenian yang dapat menjadi tontonan sekaligus tuntunan yang mampu digemari masyarakat, agar nilai-nilai budaya Jawa tidak hilang. Disinilah peran penting dari keberadaan kelompok seni drama traisional, dimana keberadaan kelompok seni drama tradisional, yang diharapkan mampu menjadi sarana penanaman nilai-nilai budaya tradisional sekaligus menjadi tuntunan bagi masyarakat.
Tugas ini cukup berat, karena dalam kenyataannya masyarakat modern cenderung memilih sejian yang cenderung bernuansa luar daripada dalam negeri. Dengan demikian, otomatis audience yang disuguhi seni tradisi semakin sedikit. Dan celakanya, semakin sedikit pula kaum terpelajar yang mau menikmati kesenian tradisi, apalagi yang mau menggluti dan sekaligus melestarikan keberadaan seni tradisi.
Di sisi lain, secara ekonomis, menyajikan kesenian tradisi memerlukan biaya lebih banyak dengan nilai jual yang tidak seberapa. Sehingga jika tolok ukurnya ekonomi, maka akan banyak kelompok kesenian tradisional yang bangkrut. Memainkan musik gamelan memerlukan biaya lebih mahal daripada memainkan musik modern. Karena dari sisi pemain, gamelan butuh pemain minimal 9 orang, sedangkan alat musik modern cukup satu orang sudah bisa tampil maksimal. Belum lagi ketika berbicara tentang pelestarian bagi pemula, untuk bisa membawakan kesenian tradisional harus menghayati nilai-nilai budaya yang menjadi akar dari kesenian yang digeluti tersebut.
            Ditengah beratnya “tugas” yang diemban oleh keberadaan kelompok seni tradisional sebagaimana tersebut diatas, ternyata banyak yang tetap eksis dengan berbagai kondisi. Seni wayang kulit, banyak sekali dalang yang terkenal dan bertahan. Di sisi lain, seni Ludruk dan Kethoprak semakin sedikit yang bisa tetap bertahan. Diantara yang sedikit itu, salah satu yang mencoba bertahan adalah Lusandra. Yang dengan dinamikanya telah berevolusi menjadi Wakas Budoyo.
Adapun penelitian terdahulu yang berkaitan dengan Dinamika Kethoprak Wakas Budoyo di Kecamatan Gandusari Kabupaten Trenggalek (1981-2013): Potret Pelestarian Seni Tradisi yaitu:
1.      Motif Lawakan dalam pagelaran Ketoprak Cahyo Mudho Lakon Putri Cina Sam Pek Eng Tai Oleh Muhammad Khazin (2010).
Hasil dari penelitian ini yaitu terdapat beberapa tuturan yang terdeteksi sebagai motif humor. Motif tesebut antara lain: sinisme, plesetan, apologisme, dan seks. Kemudian makna yang terkandung dalam humor-humor tesebut antara lain: menghina (membuat mati kutu lawan main), menghibur (memancing tawa para penonton), menyampaikan pesan atau kritikan, berkilah (beralasan), dan mengalihkan pembicaraan. Kemudian fungsi dari motif-motif humor tersebut yaitu: 1) fungsi melaksanakan segala keinginan dan segala tujuan gagasan pesan, 2) fungsi menyadarkan orang bahwa dirinya tidak selalu benar, 3) fungsi menghibur, dan 4) fungsi membuat orang mentoleransi sesuatu. Efek yang ditimbulkan oleh lontaran humor dalam ketoprak Putri Cina Sam Pek Eng Tai didasarkan pada keadaan situasi dan kondisi penonton yaitu: tertawa, tersinggung, dan merasa risih.

2.      Di Atas Panggung Harapan: Potret Keadaan Batin Seniman Ketoprak Siswa Budaya Tulungagung di Masa Modern oleh Triaz Safitri (2007).
Hasil penelitian ini yaitu memberikan kontribusi baik secara materi terlebih kepada batin mereka. Para seniman mengenal kesenian ketoprak baik karena bakat alami mereka maupun karena faktor keturunan dan lingkungan yang membesarkan mereka. Seiring dengan perkembangan jaman yang lebih modern kesenian ketoprak menjadi salah satu hiburan yang termarginalkan. Hal ini berpengaruh terhadap  keadaan batin seniman ketoprak yang pada umumnya sangat terguncang dan muncul berbagai rasa yang merupakan ungkapan jiwa mereka sebagai seniman dengan latar belakang budaya Jawa, seperti misalnya perasaan nrima (menerima), pasrah, dan juga isin (malu).
Di tengah keadaan batin para seniman yang mulai tidak stabil karena proses perubahan ini, ternyata tidak memengaruhi eksistensi para seniman ketoprak untuk tetap mempertahankan kesenian ketoprak meskipun dengan keadaan yang penuh dengan keterbatasan. Para seniman ketoprak tetap menunjukkan eksistensi mereka dalam bentuk  eksistensi lahir maupun eksistensi batin mereka. Eksistensi lahir para seniman dalam hal ini berhubungan dengan bagaimana bentuk dan  upaya para seniman untuk mempertahankan eksistensi mereka mendapatkan penghasilan secara materi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, sedangkan eksistensi batin adalah bentuk dan upaya para seniman untuk tetap bisa berkarya di atas panggung. Eksistensi lahir maupun batin yang ditunjukkan para seniman akan saling berhubungan dan memengaruhi satu dengan yang lain.

3.      Ketoprak Wahyu Manggolo di Pati pada Tahun 1945-1965 (Kajian Sejarah Kesenian), oleh Oktafiani Wulan Hapsari (2012).
Hasil penelitian ini yaitu  Asal mula ketoprak Wahyu Manggolo berdiri pada 12 April 1940, yang di prakasai Manggolo. Dia tidak mau sebuah kesenian Tradisonal luntur karena perkembangan zaman maka Manggolo bersama keluarganya mencoba untuk melestarikannya dengan mewariskan grup kesenian ketoprak dengan beberapa keturunannya yang salah satu dari anaknya sekarang masih memimpin dan melestarikan kesenian ketoprak yang bernama Mogol. Pemain ketoprak pada tahun 1945-1965 masa pasca revolusi mengalami keterbatasan dalam berbagai hal, terutama dalam hal pementasan. Para pemain dan seniman ketoprak wahyu manggolo sangat terkekang dalam kebebasan berekspresi.

4.      Deskripsi Situasi Dialog Dalam Sandiwara Ketoprak “Suminten Edan”
Hasil dari penelitian ini ialah adanya tahapan atau tingakatan dalam tutur bahasa yang digunakan dalam ketoprak, dalam skripsi ini ketoprak yang berlakon suminten edan. Para priyayi menggunakan krama inggil dalam percakapan dengan sesama priyayi, sedangkan sesama para orang golongan bawah menggunakan kromo madya.

B.     Rumusan Masalah
Menurut Pedoman Penulisan Karya Ilmiah Universitas Negeri Malang (PPKI-UM) (2013:12) “perumusan masalah merupakan upaya untuk menyatakan secara tersurat pertanyaan-pertanyaan yang hendak dicarikan jawabannya”
            Hal itulah dalam pembahasan berikutnya, permasalahan yang ada akan penulis batasi, sehingga berdasarkan latar belakang diatas penulis dapat merumuskannya sebagai berikut:
1.      Bagaimana dinamika perjalanan Kethoprak Lusandra yang bermetamorfosis menjadi Wakas Budoyo dalam mempertahankan eksistensinya di tengah melimpahnya sajian budaya populer?
2.      Bagaimana Kethoprak Wakas Budoyo menjaga dan menanamkan nilai-nilai Budaya Jawa?

C.    Kegunaan Penelitian
Sesuai dengan judul skripsi ini, maka kegunaan penelitian skripsi tentang DINAMIKA KETHOPRAK WAKAS BUDOYO DI KABUPATEN TRENGGALEK (1981-2013): POTRET PELESTARIAN SENI TRADISI ini dapat diperinci sebagai berikut:
1.      Bagi Peneliti
 Penelitian dalam penulisan skripsi ini berguna untuk menambah ilmu pengetahuan serta wawasan khususnya di bidang Ilmu Sejarah Kebudayaan, dan sebagai salah satu syarat kelulusan untuk memperoleh gelar sarjana di Universitas Negeri Malang.

2.      Bagi Jurusan Sejarah
Penelitian dalam penulisan skripsi ini dapat menambah jumlah dan keragaman referensi yang ada khususnya mengenai Ilmu Sejarah Kebudayaan dan dapat digunakan sebagai acuan dalam penelitian lanjutan maupun sejenis.

3.      Bagi Masyarakat
Memberikan pengetahuan dan mengenalkan kepada khalayak ramai bahwa di Kabupaten Trenggalek terdapat kesenian kethoprak, salah satunya adalah Wakas Budoyo serta bagaimana dinamika kethoprak tersebut sejak dibentuk pada tahun 1981 hingga tahun 2013.

D.    Metode Penelitian
Metode penelitian merupakan suatu prosedur, proses atau teknik yang sistematis dalam penyelidikan suatu disiplin ilmu tertentu untuk mendapatkan objek (bahan-bahan) yang diteliti. Dalam ilmu sejarah metode berarti ”bagaimana mengetahui sejarah” (Sjamsudin. 1996: 32). Metode sejarah mempunyai lima tahap, yaitu: (1) pemilihan topik, (2) pengumpulan sumber, (3) verifikasi (kritik sejarah, keabsahan sumber), (4) interpretasi: analisis dan sintesis, dan (5) penulisan atau historiografi (Kuntowijoyo, 1994:90).
1.      Pemilihan Topik
Topik yang dipilih sebaiknya berdasarkan: (1) kedekatan emosional dan (2) kedekatan intelektual (Kuntowijoyo, 1994:91). Topik yang penulis pilih adalah mengenai kesenian. Topik ini penulis pilih karena dalam hal kedekatan emosional, penulis merasa mempunyai kedekatan emosional karena penulis lahir dan tumbuh di antara keluarga besar yang hampir semuanya berkecimpung di dunia seni, khususnya seni peran. Sedangkan kedekatan intelektual, peneliti telah menempuh Sejarah Kebudayaan yang dilakukan sebagai landasan untuk melakukan penelitian ini.

2.      Pengumpulan Sumber
Heuristik adalah pengumpulan sumber-sumber sejarah (Sjamsuddin, 1996:66).  Dalam melakukan penelitian sejarah, penulis juga membutuhkan sumber-sumber sejarah agar dapat menguatkan argumentasi penulis mengenai sejarah yang ditulis. Menurut penyampaiannya, sumber itu dapat dibagi ke dalam sumber primer dan sumber sekunder (Kuntowijoyo, 1994:97). Sumber primer yang akan penulis gunakan adalah dari hasil wawancara dengan para pelaku, dalam hal ini adalah penulis lakun dan pemain Kethoprak Wakas Budoyo. Sedangkan sumber sekunder yang akan penulis gunakan adalah buku-buku yang terkait dengan Kesenian Kethoprak.

3.      Verifikasi
Verifikasi adalah kritik sejarah atau keabsahan sumber. Kuntowijoyo menjelaskan tahap lanjutan dari heuristik adalah verifikasi atau kritik sejarah atau keabsahan sumber. Verifikasi ada dua macam: autensitas, atau keaslian sumber, atau kritik ekstern, dan kredibilitas, atau kebiasaan dipercayai, atau kritik intern. Dalam metode sejarah, verifikasi dikenal dengan dua cara, yaitu kritik intern dan ekstern (Kuntowijoyo, 1994:104).
a)   Kritik intern
Kritik intern adalah kritik terhadap aspek-aspek dalam dari sesuatu sumber atau teks, mempertanyakan kredibilitas dan atau reliabilitas isi sumber atau teks (Kuntowijoyo, 1994:151). Peneliti berusaha untuk menerapkan  kritik intern terhadap data yang ditemukan dan melakukan pembandingan atau penyilangan isi baik sumber tertulis maupun sumber lisan. Tujuan dari hal ini adalah untuk mengukur tingkat kredibilitas sumber yang digunakan sehingga lebih berhati-hati dalam pemakaiannya dalam penyusunan historiografi..

b)   Kritik ekstern
Kritik ekstern ialah cara melakukan verifikasi atau pengujian terhadap aspek-aspek luar dari sumber sejarah. Fungsi kritik ekstern adalah memeriksa sumber-sumber sejarah atas dasar dua butir pertama dan menegakkan sedapat mungkin otensitas dan integritas dari sumber tersebut. Peneliti akan berusaha mengkritisi sumber dari aspek eksternal seperti apakah informan kunci benar-benar orang yang kompeten atau tidak dan sebagainya.
Penelitian dengan menggunakan pendekatan kualitatif, keabsahan data dikontrol dengan metode triangulasi. Menurut Patton, triangulasi dengan sumber berarti membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam metode kualitatif.  Teknik triangulasi menurut Patton dapat dicapai dengan cara:
1.      Membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara.
2.      Membandingkan apa yang dikatakan orang di depan umum dengan apa yang dikatakan secara pribadi.
3.      Membandingkan apa yang dikatakan orang-orang tentang situasi penelitian dengan apa yang dikatakan sepanjang waktu.
4.      Membandingkan keadaan dan perspektif seseorang dengan berbagai pendapat pandangan orang seperti rakyat biasa, orang yang berpendidikan menengah atau tinggi, orang berada, orang pemerintahan.
5.      Membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen berkaitan (Rachman, 1999).

4.      Interpretasi
Interpretasi atau penafsiran sejarah adalah melakukan analisa dari fakta yang diperoleh dari sumber-sumber sejarah dan bersama-sama dengan teori-teori disusunlah fakta tersebut ke dalam interpretasi yang menyeluruh (Abdurrahman, 1999:64). Interpretasi atau penafsiran sering disebut sebagai biang subjektifitas. Subjektifitas peneliti sejarah diakui, tetapi untuk dihindari (Kuntowijoyo, 1994:102). Interpretasi dibagi menjadi dua macam, yakni:

a)        Analisis
Analisis berarti menguraikan (Kuntowijoyo, 1994:102). Dalam proses analisis ini akan menghasilkan fakta. Peneliti melakukan analisis terhadap sumber yang masuk dan kemudian akan menghasilkan suatu fakta yang nantinya digunakan dalam penulisan karya ilmiah ini. Dalam penelitian ini digunakan penelitian kualitatif, yang cenderung dipakai dalam penyusunan penelitian ini. Lebih lanjut penelitian kualitatif dijelaskan sebagai berikut : mengacu kepada beberapa istilah, maka yang dimaksud dengan penelitian kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data diskriptif  berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati (Rachman, 1999:118).
Setelah data terkumpul dari hasil pengamatan data maka diadakan suatu analisis data untuk mengolah data yang ada. Analisis data dilakukan dengan mengorganisasikan dan mengurutkan data kedalam pola kategori dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja seperti yang disarankan oleh data (Moleong, 2000:103). Analisis data dilakukan secara induktif yaitu mulai dari laporan atau fakta empiris dengan cara terjun kelapangan mempelajari, menganalisis, menafsirkan dan menarik kesimpulan dari fenomena yang ada di lapangan. Analisis data didalam penelitian kualitatif dilakukan bersamaan dengan proses pengumpulan data.  Miles dan Huberman dalam Rachman menjelaskan penyajian dua model pokok analisis yaitu:
Pertama, model analisis mengalir dimana tiga komponen analisis (reduksi,sajian data, penarikan kesimpulan/verifikasi) dilakukan saling menjalin dengan proses pengumpulan data mengalir bersamaan. Kedua, model analisis interaktif, dimana komponen reduksi data dan sajian data dilakukan bersamaan dengan proses pengumpulan data. Setelah data terkumpul, maka tiga komponen analisis (reduksi data, sajian data dan penarikan kesimpulan) berinteraksi. Untuk mempermudah pemahaman, maka peneliti melakukan langkah-langkah sebagai berikut :
1.      Reduksi data
a)      Data yang telah terkumpul dipilih dan dikelompokkan berdasarkan data yang mirip sama.
b)      Data itu kemudian diorganisasikan untuk mendapat simpulan data sebagai bahan penyajian data.
2.      Penyajian data
Setelah data diorganisasikan, selanjutnya data disajikan dalam uraian-uraian naratif yang disertai dengan bagan atau tabel untuk memperjelas penyajian data.
3.      Penarikan data
Setelah data disajikan, maka dilakukan penarikan kesimpulan dan verifikasi untuk mempermudah tentang metode analisis tersebut.
b)        Sintesis
Sintesis adalah menyatukan (Kuntowijoyo, 1994:103). Dari kumpulan fakta tersebut akan menjadi rangkaian fakta. Rangkaian fakta itu akan menjadi sebuah peristiwa yang nantinya akan digunakan dalam penulisan karya ilmiah ini.

5.      Historiografi
Historiografi adalah kegiatan intelektual yang dilakukan oleh sejarawan untuk mengerahkan segala kemampuan intelektualnya dalam membuat deskripsi, narasi, analiti kritis, serta sintesis dari fakta-fakta, konsep-konsep, generalisasi, teori, hipotesis sehingga menghasilkan suatu bentuk penulisan sejarah yang utuh yang disebut historiografi (Sjamsuddin, 1996:177). Dalam melakukan historiografi ada beberapa aspek yang tidak dapat ditinggalkan oleh peneliti. Aspek itu adalah aspek kronologi. Aspek kronologi sangat penting karena  peneliti berusaha memaparkan fakta-fakta yang ada secara kronologis (Sjamsuddin, 1996:104).







                                               DAFTAR RUJUKAN                                

Abdurrahman, Dudung. 1999.  Penelitian Sejarah.  Jakarta: Logos Wacana Ilmu.
Arikunto, Suharsimi. 1996. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.
Erwida, Septa. 2013. Teater Tradisional Kabupaten Trenggalek “Kesenian Lusandra”. ______________________           
Kuntowijiyo, 1994. Metode Sejarah. Yogyakarta : Tiara Wacana Jogya.
Moleong, Lexy J. 2000. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Mukarwanto, Budi. 1992. Kethoprak Lusandra Sebagai Sarana Penanaman Moral dan Pelestarian Budaya di Kabupaten Trenggalek. ______________
Mukarwanto, Budi. 2013. Labuh Tresno Sabaya Pati: Pagelaran Kethoprak Wakas Budaya Kanggo Nguri-Uri Budaya Jawa. _____________________
Rachman, Maman. 1999. Strategi dan Langkah-langkah Penelitian. Semarang: IKIP Semarang Press.
Setyadi. _________. Tuntunan Seni Kethoprak. Yogyakarta: Kanwil Depdikbud.
Sjamsudin, Helius. 1996. Metodologi Sejarah. Jakarta: Depdikbud.












LAMPIRAN










Gambar:
Beberapa dokumentasi penampilan Kethoprak Wakas Budoyo dari tahun 1981 - 2013